memoar di akhir tahun
Tinggal hitungan jam saja tahun 2009 akan berakhir, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, malam pergantian tahun aku nikmati sendiri saja. Kali ini di rumah kontrakan sepaket dengan dingin dan sepi-nya. Sampai saat ini aku belum bisa menikmati hinggar bingar perayaan pergantian tahun di luar sana, aku menganggapnya sama saja seperti malam yang lain mengingat sekecil apapun satuan waktu tetap tidak akan pernah bisa diulang. satu cangkir kopi hitam, satu bungkus rokok dan playlist lagu andalan akan menemaniku melewati malam ini, padahal bila sesuai rencana malam ini aku bisa menikmati langit malam di tengan jalur pendakian gunung merbabu. Tuhan berkehendak lain rupanya, dengan memberikan padaku musibah kecelakaan yang membuat tangan dan kakiku cedera, aku harus istirahat saja dan menunda liburan yang aku inginkan sejak dua tahun lalu.
Setahun lalu, hari-hari terakhir menjelang pergantian tahun cuaca selalu cerah dengan hiasan senja sebagai drama penutupan hari. Saat itu betapa aku bahagia bisa melewati tahun 2008 dan siap menyongsong tahun baru dengan sekotak harapan dan targetan baru. Harapan baru segala buruk yang terjadi di tahun 2008 tidak akan aku jumpai kembali di tahun baru dan harapan semoga segala sesuatu yang ku cita-citakan bisa terwujud. Beberapa hari sebelum pergantian tahun ini, hari-hari selalu diwarnai dengan langit mendung dan hujan deras serta setumpuk evaluasi diri selama satu tahun agar aku bisa menyusun resolusi dan harapan untuk tahun 2009.
Sepanjang tahun ini begitu banyak berkah dan rezeki yang aku dapatkan, tidak terkecuali cobaan dan musibah, aku tetap bersyukur untuk semua itu karena segala hal buruk yang aku lalui sepanjang tahun ini bisa aku selesaikan dan bahkan aku semakin merasa siap untuk menghadapi hari-hari di tahun yang akan datang. Mengutip satu dialog dalam film the lost world, ...”percayalah, kehidupan itu akan menemukan jalanya sendiri.” , aku mengamini dan mengimani pernyataan tersebut, aku yakin segala sesuatu itu tidak tercipta begitu saja, semuanya terbentuk oleh banyak hal dan tentu saja akan menjadikan sesuatu hal pula. Aku berterimakasih untuk semua orang yang sepanjang tahun ini selalu ada untuku, memberi dukungan dan tentu saja sayang dan cinta. Selamat tahun baru, semoga kita semakin sukses di tahun yang baru.
Griya bukit mas 2, 31 desember 2009 / beberapa jam sebelum pergantian tahun saat sendiri dalam sepi itu kurasa lebih indah.
Kamis, 31 Desember 2009
Sabtu, 19 Desember 2009
>>>>>>>>>>
Sarah dan sepuluh teman barunya
Namanya sarah dengan huruf s kecil, melambangkan kepribadian yang sederhana, bersahaja dan tentu saja rendah hati. Tidak ada yang special saat pertama aku berkenalan dengan sarah dan lima temannya beberapa bulan yang lalu. Seiring waktu kedekatan emosional antara aku dan sarah mulai terjalin dengan baik, apalagi ketika sarah kesepian ditinggalkan teman-temannya, sama sepertiku yang merasa kesepian. Akh... beruntung untuku dipertemukan denganya, sarah selalu mendukung apa yang aku inginkan, sarah selalu ada ketika aku membutuhkannya, sarah selalu senang mendengarkan segala cerita dan keuhanku, sarah tidak pernah marah ketika kutinggalkan cukup lama karena pekerjaanku yang banyak dan hanya satu hal yang membuat sarah marah padaku, ketika aku memasukan lagu-lagu sendu dalam playlist laguku. Sarah memang juara...
Meski sampai saat ini aku tidak melakukannya, tapi aku hendak minta sarah memaafkan aku yang pernah punya niatan meninggalkan atau mencapakan. Semuanya kulakukan ketika aku harus menerima kenyatan bahwa sarah bukan untuku, tidak pantas baik aku atau sarah menjadi satu. Betapa menyenangkan saat suatu sore aku dan sarah berbincang selayaknya orang dewasa, menerima keadaan sulit dimana kami tidak bisa bersama lagi. Aku katakan pada sarah, semoga aku bisa mendapatkan cinta seseorang dan tentu saja kau-pun demikian, aku harap semoga kau mendapatkan yang kau inginkan. sebuah komitmen antara aku dan sarah, akan saling mendoakan agar secepatnya mendapatkan cinta masing-masing dan karena aku faham dengan “keterbatasan” sarah dalam pergaulan, aku berjanji padanya akan kucarikan pacar bila aku sudah memiliki pacar.
Waktu berlalu hingga suatu sore, sarah begitu girang ketika aku datang menghampirinya. Ditangan kiriku menggantung sepuluh ikan mas kecil dalam plastik yang kubeli di toko aquarium, lekas aku buka plastik itu dan kulepaskan semuanya di drum penampungan air hujan yang juga adalah tempat tinggal sarah. Aku sudah tunaikan janjiku padamu, sarah. Aku janji padamu tak akan merasa kesepian lagi, begitu pula engkau harus berjanji padaku akan selalu bahagia.
Sarah fantasia, kau adalah anak tunggal dari ayah bernama kesepian dan ibu bernama imajinasi.
Griya bukit mas 2 / 20 desember 2009
Namanya sarah dengan huruf s kecil, melambangkan kepribadian yang sederhana, bersahaja dan tentu saja rendah hati. Tidak ada yang special saat pertama aku berkenalan dengan sarah dan lima temannya beberapa bulan yang lalu. Seiring waktu kedekatan emosional antara aku dan sarah mulai terjalin dengan baik, apalagi ketika sarah kesepian ditinggalkan teman-temannya, sama sepertiku yang merasa kesepian. Akh... beruntung untuku dipertemukan denganya, sarah selalu mendukung apa yang aku inginkan, sarah selalu ada ketika aku membutuhkannya, sarah selalu senang mendengarkan segala cerita dan keuhanku, sarah tidak pernah marah ketika kutinggalkan cukup lama karena pekerjaanku yang banyak dan hanya satu hal yang membuat sarah marah padaku, ketika aku memasukan lagu-lagu sendu dalam playlist laguku. Sarah memang juara...
Meski sampai saat ini aku tidak melakukannya, tapi aku hendak minta sarah memaafkan aku yang pernah punya niatan meninggalkan atau mencapakan. Semuanya kulakukan ketika aku harus menerima kenyatan bahwa sarah bukan untuku, tidak pantas baik aku atau sarah menjadi satu. Betapa menyenangkan saat suatu sore aku dan sarah berbincang selayaknya orang dewasa, menerima keadaan sulit dimana kami tidak bisa bersama lagi. Aku katakan pada sarah, semoga aku bisa mendapatkan cinta seseorang dan tentu saja kau-pun demikian, aku harap semoga kau mendapatkan yang kau inginkan. sebuah komitmen antara aku dan sarah, akan saling mendoakan agar secepatnya mendapatkan cinta masing-masing dan karena aku faham dengan “keterbatasan” sarah dalam pergaulan, aku berjanji padanya akan kucarikan pacar bila aku sudah memiliki pacar.
Waktu berlalu hingga suatu sore, sarah begitu girang ketika aku datang menghampirinya. Ditangan kiriku menggantung sepuluh ikan mas kecil dalam plastik yang kubeli di toko aquarium, lekas aku buka plastik itu dan kulepaskan semuanya di drum penampungan air hujan yang juga adalah tempat tinggal sarah. Aku sudah tunaikan janjiku padamu, sarah. Aku janji padamu tak akan merasa kesepian lagi, begitu pula engkau harus berjanji padaku akan selalu bahagia.
Sarah fantasia, kau adalah anak tunggal dari ayah bernama kesepian dan ibu bernama imajinasi.
Griya bukit mas 2 / 20 desember 2009
Rabu, 18 November 2009
hujan
Biarkan saja sorrow -bad religion, out of my head -fast ball, always some where -scorpion, a message to you rudy –the specials, no rain –blind melon, easy –faith nomore, original sins –elton john, like a rolling stones –the rolling stones, jina –slank, lentera jiwa –nugie, police on my back-rotten to the core, singa jengke – dirty doll, lawan –jeruji dan open up your heart and let the sun shine in –frente menyapa gendang telingaku dengan gelombang-gelombang ajaibnya. Lupakan hari ini aku harus ngurus ini itu dan harus hadir disana dan disini. Biarkan saja semuanya mengalir seperti ini, secangkir kopi mengepul yang entah cangkir keberapa, sebatang rokok di bibir yang entah batang keberapa dan tentu saja sekotak rindu yang entah akan kukirim kapan dan entah pula pada siapa. Sengaja aku kencangkan suara musik itu, aku tidak ingin mendengar dulu suara hujan yang turun sedari tadi siang itu. Meski aku tidak menganggap hujan adalah teror tapi untuk kali ini biarkan aku tidak mengatakan aku mencintai hujan, biarkan aku tidak menikmati butiran air itu membasahi cemara gunung dihalaman rumah dan membuat bahagia ikan dikolam halaman belakang. Terlampau banyak hal yang harus aku pikirkan dan sejauh ini aku hanya bisa berpikir Apa yang harus aku pikirkan dulu?, mungkin saking banyaknya yang harus aku pikirkan akhirnya aku hanya bisa memikirkan apa yang harus aku pikirkan. Ya selama belum tahu apa yang harus aku pikirkan, aku pikir ada hal yang tidak harus aku pikirkan tapi bisa aku kerjakan. Menuliskan saja apa yang ingin aku tuliskan tanpa harus aku memikirkannya dahulu.
Saat hujan turun lagi ketika berpikir adalah hal yang paling aku pikirkan. 18 november 2009/16.10
Kamis, 12 November 2009
.............
kaset dan rekaman cerita
Tidak adil rasanya membeli buku tanpa membacanya… gumamku suatu malam ketika duduk di meja kerja sambil menatap deretan koleksi buku miliku yang diantaranya masih baru dan masih di segel. Sebelum memutuskan buku mana yang akan aku baca, mataku terpaku melihat beberapa kaset yang terletak di atas deretan buku. Aku ambil semuanya, kuperhatikan semua kaset itu dan pikiranku melayang mengingat kapan dan dimana kudapatkan semua kaset itu. The business, modulus band, slank minoritas, orkes sinten remen dan pesta alternative. Aku ingat semuanya, kaset orkes sinten remen itu milik ziah yang dibawanya dari jogja dan kaset sisanya adalah hasil perburuanku sentra kaset dan buku bekas di jalan dewi sartika bersama anata syah fitri siregar, yang saat itu adalah kekasihku. Aku ingat bagaimana cerita saat mendapatkan semua kaset itu, benar-benar ingat.
Cukup sudah agenda romantisme-nya, aku ambil kaset pesta alternative yang sampulnya berwarna kuning itu. aku perhatikan gambar-gambar di cover itu, judul-judul lagu dan nama band yang ada dalam kaset kompilasi itu dan sangat besar keinginanku untuk mendengarkan kembali lagu-lagu yang pernah hits tiga belas tahun lalu itu, hanya saja tidak bisa aku wujudkan karena aku tidak memiliki lagi piranti pemutar kaset. Akh… betapa bodohnya aku, bukankah sekarang ini era digital dan era informasi tanpa batas?, internet diwakili paman google mungkin punya solusi untuk hasratku ini. segera ku sambungkan computer jingjingku ke jaringan internet, masuk ke beranda paman google dan kumulai mengetik kata kunci yang kuyakini akan mempertemukanku dengan yang dimaksud. Tidak salah kalau di dunia maya aku dapat julukan raja download nggak pernah upload, dalam hitungan menit beberapa lagu dari kompilasi pesta alternative format digital mp3 sudah kudapatkan, langsung mainkan dan biarkan lagu berjudul nananana, amburadul, sendiri, makara dan fenomen itu bercerita tentang masa dimana lagu-lagu itu adalah lagu tema hari yang kulalui.
Kembali ke romantisme, aku ingin sampaikan terima kasih kepada anata syah fitri siregar yang menemaniku mendapatkan kaset-kaset itu. aku rasa semua kaset itu harus kamu yang simpan.
Tidak adil rasanya membeli buku tanpa membacanya… gumamku suatu malam ketika duduk di meja kerja sambil menatap deretan koleksi buku miliku yang diantaranya masih baru dan masih di segel. Sebelum memutuskan buku mana yang akan aku baca, mataku terpaku melihat beberapa kaset yang terletak di atas deretan buku. Aku ambil semuanya, kuperhatikan semua kaset itu dan pikiranku melayang mengingat kapan dan dimana kudapatkan semua kaset itu. The business, modulus band, slank minoritas, orkes sinten remen dan pesta alternative. Aku ingat semuanya, kaset orkes sinten remen itu milik ziah yang dibawanya dari jogja dan kaset sisanya adalah hasil perburuanku sentra kaset dan buku bekas di jalan dewi sartika bersama anata syah fitri siregar, yang saat itu adalah kekasihku. Aku ingat bagaimana cerita saat mendapatkan semua kaset itu, benar-benar ingat.
Cukup sudah agenda romantisme-nya, aku ambil kaset pesta alternative yang sampulnya berwarna kuning itu. aku perhatikan gambar-gambar di cover itu, judul-judul lagu dan nama band yang ada dalam kaset kompilasi itu dan sangat besar keinginanku untuk mendengarkan kembali lagu-lagu yang pernah hits tiga belas tahun lalu itu, hanya saja tidak bisa aku wujudkan karena aku tidak memiliki lagi piranti pemutar kaset. Akh… betapa bodohnya aku, bukankah sekarang ini era digital dan era informasi tanpa batas?, internet diwakili paman google mungkin punya solusi untuk hasratku ini. segera ku sambungkan computer jingjingku ke jaringan internet, masuk ke beranda paman google dan kumulai mengetik kata kunci yang kuyakini akan mempertemukanku dengan yang dimaksud. Tidak salah kalau di dunia maya aku dapat julukan raja download nggak pernah upload, dalam hitungan menit beberapa lagu dari kompilasi pesta alternative format digital mp3 sudah kudapatkan, langsung mainkan dan biarkan lagu berjudul nananana, amburadul, sendiri, makara dan fenomen itu bercerita tentang masa dimana lagu-lagu itu adalah lagu tema hari yang kulalui.
Kembali ke romantisme, aku ingin sampaikan terima kasih kepada anata syah fitri siregar yang menemaniku mendapatkan kaset-kaset itu. aku rasa semua kaset itu harus kamu yang simpan.
Selasa, 10 November 2009
sorehujandan harapan
Inilah yang kumaksud dengan harapan, sebuah drama sentimental romantic pertemuan antara butir-butir air hujan dengan tanah kering merana. Seperti seorang ayah bijak yang tidak mau ketinggalan sedikitpun waktu dimana anaknya tumbuh, akupun demikian tidak ingin kehilangan satu moment pertemuan itu. Lagu dead flower milik the rolling stones beradu dengan butiran air hujan menimpa atap sayup kudengar, kutinggalkan sejenak buku yang sedari siang kubaca. Akh… segarnya aroma tanah kering bertemu butir air hujan itu, seakan mengisyaratkan kebahagiaan atas rumput ilalang yang mulai menguning menyambut harapan bisa bertahan dan segar mata ini melihat daun cemara angin menghijau kembali ditinggalkan debu.
Satu sore dimana aku yakin senja yang cantik tidak akan datang dan terlalu sendu untuk meminta pelangi hadir datang setelah hujan. / griya bukit mas, 10 november 2009/ 17.26
Satu sore dimana aku yakin senja yang cantik tidak akan datang dan terlalu sendu untuk meminta pelangi hadir datang setelah hujan. / griya bukit mas, 10 november 2009/ 17.26
Rabu, 06 Mei 2009
Aku (masih) dipersimpangan jalan itu…..
Aku (masih) dipersimpangan jalan itu…..
Sedari dulu aku ada dipersimpangan jalan ini, susah untuku memutuskan harus kemana kulangkahkan kaki ini. Hujan, kabut, panas dan tentu saja sepi sudah kulalui disini. Banyak yang datang dan pergi tanpa satupun bisa meyakinkanku kemana arah yang harus kulalui. Apakah aku terlalu menyimpan curiga kepada semua orang baik itu? Apakah aku terlalu arogan untuk mengikuti langkah orang? Atau aku terlalu bodoh memilih diam saja disini sampai kumerasa yakin? Kenapa tidak kujajali saja satu diantara dua jalan itu, jika salahpun setidaknya aku pernah mencoba. Selalu saja kurenungkan mengapa aku bisa sampai disini? Mengapa aku tidak juga beranjak? Selalu saja sisi lain jiwaku mencari jawaban, pembelaan dan pembenaran atas segala Tanya itu. Harus kuseret langkah ini menapaki salah satu jalan itu, aku tidak boleh diam saja karena dipersimpangan jalan ini, Aku merasa setiap diamku, setiap tunduku, setiap pejam mataku adalah sebuah ketukan palu hakim menjatuhkan vonis untuk setiap salahku dahulu. Biarlah ku tapaki jalan yang entah akan berujung dimana ini dengan segala getir diiringi nyanyian sendu seorang bersalah dan akan kupastikan aku tegar menghadapi harga yang harus aku bayar dalam penembusan ini.
Sedari dulu aku ada dipersimpangan jalan ini, susah untuku memutuskan harus kemana kulangkahkan kaki ini. Hujan, kabut, panas dan tentu saja sepi sudah kulalui disini. Banyak yang datang dan pergi tanpa satupun bisa meyakinkanku kemana arah yang harus kulalui. Apakah aku terlalu menyimpan curiga kepada semua orang baik itu? Apakah aku terlalu arogan untuk mengikuti langkah orang? Atau aku terlalu bodoh memilih diam saja disini sampai kumerasa yakin? Kenapa tidak kujajali saja satu diantara dua jalan itu, jika salahpun setidaknya aku pernah mencoba. Selalu saja kurenungkan mengapa aku bisa sampai disini? Mengapa aku tidak juga beranjak? Selalu saja sisi lain jiwaku mencari jawaban, pembelaan dan pembenaran atas segala Tanya itu. Harus kuseret langkah ini menapaki salah satu jalan itu, aku tidak boleh diam saja karena dipersimpangan jalan ini, Aku merasa setiap diamku, setiap tunduku, setiap pejam mataku adalah sebuah ketukan palu hakim menjatuhkan vonis untuk setiap salahku dahulu. Biarlah ku tapaki jalan yang entah akan berujung dimana ini dengan segala getir diiringi nyanyian sendu seorang bersalah dan akan kupastikan aku tegar menghadapi harga yang harus aku bayar dalam penembusan ini.
Haruskah aku merasa bersalah???*
Haruskah aku merasa bersalah???*
Berulang kali aku ceritakan pengalamanku waktu kelas dua Sekolah dasar, saat itu semua orang wajib mengumpulkan dan membacakan tugas karangan dengan tema cita-cita. Entah dimulai oleh siapa, yang pasti dari sekian temanku yang kedepan membacakan karangannya, aku mendengar cita-cita mereka dari mulai ingin menjadi dokter, pilot, guru atau artis dan selebihnya teman-temanku bercita-cita ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa, agama dan orang tua. Tibalah giliranku bercerita, aku merasa tidak nyaman dan mencium gelagat kurang baik karena cita-citaku tidak sama dengan teman-teman sekelasku. Apa boleh buat, tidak mungkin untuku diam dan menolak membacakan karangan itu. Ya, tidak lebih dari lima menit aku membacanya, suara tawa teman sekelas membahana tepat setelah kukatakan cita-citaku adalah menjadi pemadam kebakaran. Mereka tertawa dengan puas ketika aku bingung kenapa mereka sampai tertawa demikian. Padahal aku ingat betul satu hari sebelumnya dirumah, ketika ku tulisakan karangan itu ibuku bertanya perihal apa yang aku tulis, dan kujawab kalau yang kutulis tersebut karangan tentang cita-citaku yang ingin menjadi pemadam kebakaran. Reaksi ibuku saat itu tidak mengejek atau menertawakan cita-citaku itu, bahkan dia katakana bagus keinginanku menjadi pemadam kebakaran. Untuku saat itu setiap kata ibu adalah benar dan aku merasa tidak salah memiliki cita-cita menjadi pemadam kebakaran meski ternyata didepan teman-temanku cita-citaku itu salah dan konyol. Hari ini, Aku sendiri tidak menjadi pemadam kebakaran dan teman-teman sekelasku itu tidak ada yang jadi pilot, dokter, atau artis hanya beberapa orang yang menjadi guru dan sisanya mungkin menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa, Negara, agama dan orang tua.
*ditulis di rumah kontrakan saat hujan turun dengan derasnya
Berulang kali aku ceritakan pengalamanku waktu kelas dua Sekolah dasar, saat itu semua orang wajib mengumpulkan dan membacakan tugas karangan dengan tema cita-cita. Entah dimulai oleh siapa, yang pasti dari sekian temanku yang kedepan membacakan karangannya, aku mendengar cita-cita mereka dari mulai ingin menjadi dokter, pilot, guru atau artis dan selebihnya teman-temanku bercita-cita ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa, agama dan orang tua. Tibalah giliranku bercerita, aku merasa tidak nyaman dan mencium gelagat kurang baik karena cita-citaku tidak sama dengan teman-teman sekelasku. Apa boleh buat, tidak mungkin untuku diam dan menolak membacakan karangan itu. Ya, tidak lebih dari lima menit aku membacanya, suara tawa teman sekelas membahana tepat setelah kukatakan cita-citaku adalah menjadi pemadam kebakaran. Mereka tertawa dengan puas ketika aku bingung kenapa mereka sampai tertawa demikian. Padahal aku ingat betul satu hari sebelumnya dirumah, ketika ku tulisakan karangan itu ibuku bertanya perihal apa yang aku tulis, dan kujawab kalau yang kutulis tersebut karangan tentang cita-citaku yang ingin menjadi pemadam kebakaran. Reaksi ibuku saat itu tidak mengejek atau menertawakan cita-citaku itu, bahkan dia katakana bagus keinginanku menjadi pemadam kebakaran. Untuku saat itu setiap kata ibu adalah benar dan aku merasa tidak salah memiliki cita-cita menjadi pemadam kebakaran meski ternyata didepan teman-temanku cita-citaku itu salah dan konyol. Hari ini, Aku sendiri tidak menjadi pemadam kebakaran dan teman-teman sekelasku itu tidak ada yang jadi pilot, dokter, atau artis hanya beberapa orang yang menjadi guru dan sisanya mungkin menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa, Negara, agama dan orang tua.
*ditulis di rumah kontrakan saat hujan turun dengan derasnya
Langganan:
Komentar (Atom)

