Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku…. Begitulah penggalan lirik lagu yang dipolulerkan oleh group music Netral, yang kahir-akhir ini begitu sering kudengar. Meskipun itu bukanlah lagu baru, tapi hari ini seakan menjadi lagu wajib yang harus dihafal dan dinyanyikan oleh semua kalangan masyarakat negeri ini. Dari mulai para penonton di triun stadion, anak-anak kecil di kampong, pengamen diperempatan jalan, artis-artis dalam berbagai tayangan televise, sampai pejabat tidak ketinggalan menyanyikan lagu tersebut. Ya, lagu itu seakan menjadi pemersatu bagi bangsa yang sedang dilanda euphoria ini, sebuah mabuk bersama dalam kebahagiaan dan kebanggaan memiliki tim sepak bola, yang permainannya mengagumkan di ajang piala Suzuki AFF 2010. Meskipun pada akhirnya timnas Indonesia kalah oleh Malaysia pada putaran final, tidak menjadi alas an untuk penghuni bangsa ini berhenti menyanyikan lagu itu, atau setidaknya memelankan volume saat menyanyikannya, tapi sebaliknya lagu itu tetap dinyanyikan, malah dengan nada semakin lantang. Biarkanlah tetap seperti itu, lagu itu tetap dinyanyikan dan menyalakan kembali rasa cinta pada negeri ini tumbuh semakin besar di benak setiap warga negaranya. Pada kenyataannya kita bias melupakan berbagai perbedaan yang selama ini menjadi pemicu gesekan diantara kita, ternyata kita masih memiliki rasa cinta itu. Moment ini harus terus dijaga dan kita jadikan agenda konsolidasi, untuk langkah bangsa selanjutnya. Bagaimanapun juga, dari moment ini kita bias ambil sebuah bukti bahwa nasionalisme bias tumbuh dan berkembang bukan hanya di ruang kelas saat kita mengikuti penataran P4, tapi juga bias dari lapangan hijau. biarlah Malaysia membawa pulang piala, kita disini mendapatkan hal yang lebih berharga dari pada piala itu, yaitu sebuah rasa cinta pada Indonesia.
29 desember 2010, saat senyum ramah terkembang dari wajah-wajah gelisah.
Minggu, 30 Januari 2011
Dimataku, Ayam penyet itu hilang harga dirinya.
Perlu diketahui, aku bukanlah pecinta makanan pedas. Untuku, adalah aneh mengatakan makanan pedas itu adalah enak dan lezat, aku menganggap makanan pedas itu adalah penyiksaan dalam agenda menyakiti diri sendiri. Keputusanku untuk tidak menyukai makanan pedas, tentu saja tidak mucul begitu saja, melainkan hasil pergulatan panjang departemen lidah dan pencernaan, menjajali berbagai menu pedas dari satu menu ke menu yang lain. Salah satu makanan pedas yang pernah mampir di mulutku, adalah menu ayam dan terong penyet yang dijual tidak jauh dari pondokanku. Keterpaksaan-lah yang membuatku akhirnya mengkonsumsi menu itu, terpaksa karena tidak ada menu lain, terpaksa karena itu tempat makan terdekat dan terpaksa karena tubuhku butuh asupan makan. Ternyata keterpaksaan itu tidak hanya terjadi sekali, tapi berulang dengan alas an yang sama.dari sekian keterpaksaan itu percaya atau tidak, aku tidak pernah mampu menghabiskan satu porsi menu, Aku tidak bias menikmatinya, rasa pedas ayam dan terong penyet sepertinya masih saja menjadi terror.
Suatu malam yang begitu cerah dan hangat, dalam perjalanan pulang dari aktivitas, sengaja ku mampir di warung nasi untuk beli makan malam, pikirku pasti akan malas keluar jika sudah sampai pondokan. Saat di warung penjual nasi jereng kiri*, aku urungkan untuk beli menu biasa itu, tiba-tiba aku berpikir menu lain, ya… ayam dan terong penyet pedas itu. Untuk kali pertama rasanya, aku membeli menu ayam dan terong penyet itu tanpa merasa terpaksa, begitu ikhlas rasanya. Hidangan sudah tersedia, segera saja kulahap menu ayam dan terong penyet pedas itu, tidak ketinggalan satu gelas the manis panas yang kusiapkan jika kepedasan. Ironis namanya, hingga suap terakhir aku tidak merasa sedikitpun kepedasan oleh menu tersebut, the manis panas-pun tidak begitu berguna. Aku tertawa puas, bias menuntaskan makan malam menu terseut tanpa merasa tersiksa. Apakah karena aku mulai menikmati makanan pedas? Apakah aku mulai suka?. Tentu saja jawabanya bukan karena itu, melainkan karena ayam dan terong penyet itu tidaklah sepedas dahulu, meski warnanya merah dan namanya tetap penyet. Sepertinya karena kenaikan harga cabe yang tajam, membuat penjualnya harus mengurangi volume cabe dan memperbanyak gula dan tomat. Imbasnya, menu itu tetap menyandang nama besar penyet yang terkenal pedas itu, namun rasanya jauh dari predikat besarnya. Sungguh, dimataku ayam penyet itu kehilangan harga dirinya.
Ciumbuleuit, 2 januari 2011, saat langit begitu cerah penuh harapan.
Suatu malam yang begitu cerah dan hangat, dalam perjalanan pulang dari aktivitas, sengaja ku mampir di warung nasi untuk beli makan malam, pikirku pasti akan malas keluar jika sudah sampai pondokan. Saat di warung penjual nasi jereng kiri*, aku urungkan untuk beli menu biasa itu, tiba-tiba aku berpikir menu lain, ya… ayam dan terong penyet pedas itu. Untuk kali pertama rasanya, aku membeli menu ayam dan terong penyet itu tanpa merasa terpaksa, begitu ikhlas rasanya. Hidangan sudah tersedia, segera saja kulahap menu ayam dan terong penyet pedas itu, tidak ketinggalan satu gelas the manis panas yang kusiapkan jika kepedasan. Ironis namanya, hingga suap terakhir aku tidak merasa sedikitpun kepedasan oleh menu tersebut, the manis panas-pun tidak begitu berguna. Aku tertawa puas, bias menuntaskan makan malam menu terseut tanpa merasa tersiksa. Apakah karena aku mulai menikmati makanan pedas? Apakah aku mulai suka?. Tentu saja jawabanya bukan karena itu, melainkan karena ayam dan terong penyet itu tidaklah sepedas dahulu, meski warnanya merah dan namanya tetap penyet. Sepertinya karena kenaikan harga cabe yang tajam, membuat penjualnya harus mengurangi volume cabe dan memperbanyak gula dan tomat. Imbasnya, menu itu tetap menyandang nama besar penyet yang terkenal pedas itu, namun rasanya jauh dari predikat besarnya. Sungguh, dimataku ayam penyet itu kehilangan harga dirinya.
Ciumbuleuit, 2 januari 2011, saat langit begitu cerah penuh harapan.
memoar akhir tahun
“Bersyukur bisa lalui tahun 2010, tanpa percobaan bunuh diri satu kali-pun”, begitulah kalimat yang kujadikan status di jejaringsosial facebook, hari terakhir tahun 2010 ini. Mungkin terdengar cukup bodoh dan putus asa, percayalah kalmat itu lahir setelah melalui pertarungan yang sengit dalam benak, antara aku dan saya. Beberapa hari di penghujung desember ini, sengaja kuluangkan waktu cukup panjang untuk membuat review segala sesuatu yang terjadi selama tahun ini, banyak hal besar menyenangkan kudapatkan, Tidak sedikit pula kejadian memilukan yang telah kulalui dan aku syukuri pula. Sedih rasanya harus memberikan predikat tahun terberat untuk tahun 2010 yang akan segera berlalu ini, hanya saja tetap harus aku lakukan, karena memang demikian kenyataannya, karena pada kenyataanya memang rangkaian cerita pedih dan memilukan yang lebih banyak mendominasi hari di tahun 2010 ini. Pemberian predikat tahun terberat, semata-mata sekedar monument kecil tentang rangkaian kepedihan untuk pengingat di langkah berikutnya. “harapan” adalah konsep yang selalu aku sukai, apalagi dalam situasi-situasi seperti ini. Dalam tunduk ini, kusisipkan doa dan harapan tentang esok yang semoga lebih baik dan semoga selalu menyenagkan.
Ciumbuleuit, 31 desember 2010, saat senja tidak cukup cantik datang menghampiri
Ciumbuleuit, 31 desember 2010, saat senja tidak cukup cantik datang menghampiri
Rabu, 27 Oktober 2010
Episode panjang itu berakhir
“Semuanya belum berakhir, masih tersisa lintasan lain untuk dijalani, setidaknya satu etape panjang dan cukup melelahkan telah diselesaikan. Akhirnya... kuraih juga gelar sarjana ilmu komunikasi, setelah hampir delapan tahun kulalui prosesnya. Hampir delapan tahun tentu saja ukuran waktu yang “fantastis”, untuk mendapatkan gelar sarjana tersebut, mengingat begitu banyak kawan yang bisa lulus dalam hitungan jauh dibawah itu. Meski demikian, ada beberapa orang kawanku yang membutuhkan waktu lebih lama dari yang telah kuambil tersebut, untuk menyelesaikan kuliahnya.”
Begitulah gumamku dalam hati, sesaat setelah bunyi gong ditabuh oleh protokoler, menandakan prosesi wisuda untuk fakultas ilmu komunikasi dimulai. Satu persatu nama wisudawan dan wisudawati dipanggil protokoler, untuk naik ke podium dan menerima map ijazah dari Dekan dan ucapan selamat dari Rektor. Sambil menunggu giliran namaku dipanggil, kuperhatikan semua nama dan wajah orang yang dipanggil. Setiap orang yang naik podium wajahnya terlihat sumringah, aku bisa melihatnya dari layar besar yang ditempatkan di dua sisi podium. Akh... begitu banyak orang yang aku kenal, mereka teman satu angkatan dan tentu saja adik angkatan. Tidak ada satupun kakak angkatan, karena memang aku angkatan palling tua dikampus. Aku dan sekitar dua ratus orang yang wisuda hari itu adalah angkatan cuci gudang, atau hanya diberikan pilihan lulus, drop out atau mengundurkan diri, karena masa studi yang sudah mencapai batas akhir dari yang diberikan oleh kampus. Giliranku tiba, setelah kudengarkan namaku disebut oleh protokoler, dengan pasti kulangkahkan kaki menuju meja dekan untuk mengambil map ijazah dan di meja berikutnya kudapatkan ucapan selamat dari Rektor.
Begitulah akhir dari episode panjang bernama kuliahku, tidak se dramatis yang kubayangkan tapi sangat berkesan untuk dikenang. Oom dan tante beserta kedua anaknya, beberapa kerabat dan tentu saja kekasih yang datang mendampingi wisudaku cukup membuatku berbahagia saat itu, semakin meyakinkan bahwa aku memang tidak sendirian. Diantara kebahagiaanku itu, tetes air mata tidak bisa aku cegah untuk jatuh. Aku merindukan ibu tercinta disurga, yang meninggal tepat ketika aku di terima di kampus ini. Satu motivasi besar untuku hingga bisa menyelesaikan kuliah ini, adalah keinginan ibuku memiliki anak kuliah di Universitas Padjadjaran. Telah aku tunaikan, semoga Ibu berbahagia.
Graha sanusi, Universitas Padjadjaran, 25 Agustus 2010
Begitulah gumamku dalam hati, sesaat setelah bunyi gong ditabuh oleh protokoler, menandakan prosesi wisuda untuk fakultas ilmu komunikasi dimulai. Satu persatu nama wisudawan dan wisudawati dipanggil protokoler, untuk naik ke podium dan menerima map ijazah dari Dekan dan ucapan selamat dari Rektor. Sambil menunggu giliran namaku dipanggil, kuperhatikan semua nama dan wajah orang yang dipanggil. Setiap orang yang naik podium wajahnya terlihat sumringah, aku bisa melihatnya dari layar besar yang ditempatkan di dua sisi podium. Akh... begitu banyak orang yang aku kenal, mereka teman satu angkatan dan tentu saja adik angkatan. Tidak ada satupun kakak angkatan, karena memang aku angkatan palling tua dikampus. Aku dan sekitar dua ratus orang yang wisuda hari itu adalah angkatan cuci gudang, atau hanya diberikan pilihan lulus, drop out atau mengundurkan diri, karena masa studi yang sudah mencapai batas akhir dari yang diberikan oleh kampus. Giliranku tiba, setelah kudengarkan namaku disebut oleh protokoler, dengan pasti kulangkahkan kaki menuju meja dekan untuk mengambil map ijazah dan di meja berikutnya kudapatkan ucapan selamat dari Rektor.
Begitulah akhir dari episode panjang bernama kuliahku, tidak se dramatis yang kubayangkan tapi sangat berkesan untuk dikenang. Oom dan tante beserta kedua anaknya, beberapa kerabat dan tentu saja kekasih yang datang mendampingi wisudaku cukup membuatku berbahagia saat itu, semakin meyakinkan bahwa aku memang tidak sendirian. Diantara kebahagiaanku itu, tetes air mata tidak bisa aku cegah untuk jatuh. Aku merindukan ibu tercinta disurga, yang meninggal tepat ketika aku di terima di kampus ini. Satu motivasi besar untuku hingga bisa menyelesaikan kuliah ini, adalah keinginan ibuku memiliki anak kuliah di Universitas Padjadjaran. Telah aku tunaikan, semoga Ibu berbahagia.
Graha sanusi, Universitas Padjadjaran, 25 Agustus 2010
Pesan singkat menjelang puasa
Puasa tahun ini, untuku terasa tidak begitu istimewa. menjelang hari pelaksanaan aku masih menjalankan rutinitas seperti biasanya, tidak kubuat persiapan seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti rencana tempat sahur, silaturahmi kepada keluarga yang di luar kota dan ziarah ke makam ibunda tercinta. Seperti biasanya menjelang puasa, teman dan sodaraku mengirimkan pesan singkat yang berisi permohonan maaf dan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa, Yang membedakan dari pesan singkat yang lainnya adalah, beberapa kerabatku mengirimkan pesan singkat dengan tema yang sama namun dengan pengemasan yang berbeda. Aroma curhat asmara begitu kuat terasa dalam beberapa pesan singkat tersebut, semisal pesan singkat dari seorang kerabat yang biasanya kupanggil Axl dan umar perez.
+628562087XXX Axl
Sehari lg, smoga bulan puasa tahun ini adalah kawah cadradimuka yang mnjadikan kita semakin “bijak”.. menjadi lebih dekat dengan’NYA.. dan dirinya.. Amien..
+628562348XXX Umar
Umar.Perez : Selamat berpuasa..semoga saja, menamatkan semua puasa di tahun ini lebih menyenangkan dari mendapatkan wanita itu.. amien..
+628562087XXX Axl
Alhamdulillah, Berakhir sudah gelaran puasa perdana, teriring sebuah doa semoga disaat dia berbuka puasa, turut berbuka pula hatinya tuk menerima kembali.. Amien.
+628562348XXX Umar
Pengalaman menunggunya bertahun2 membuatku cukup mudah menunggu waktu berbuka yang hanya kurang lebih 14 jamsaja setelah imsyak.. selamat berbuka.
Setelah membaca pesan singkat tersebut, aku berasa punya kewajiban untuk membalasnya dengan turut serta larut dalam cerita tersebut, meskipun saking dalamnya setiap kata dalam pesan singkat itu, aku hanya bisa jawab Amieen.... terima kasih kerabatku, sungguh pesan singkat yang kalian kirim tersebut membuatku bergairah menjalankan puasa. Semoga setiap doa yang tersirat dalam pesan singkat itu, dijawab oleh Tuhan. Amien...
+628562087XXX Axl
Sehari lg, smoga bulan puasa tahun ini adalah kawah cadradimuka yang mnjadikan kita semakin “bijak”.. menjadi lebih dekat dengan’NYA.. dan dirinya.. Amien..
+628562348XXX Umar
Umar.Perez : Selamat berpuasa..semoga saja, menamatkan semua puasa di tahun ini lebih menyenangkan dari mendapatkan wanita itu.. amien..
+628562087XXX Axl
Alhamdulillah, Berakhir sudah gelaran puasa perdana, teriring sebuah doa semoga disaat dia berbuka puasa, turut berbuka pula hatinya tuk menerima kembali.. Amien.
+628562348XXX Umar
Pengalaman menunggunya bertahun2 membuatku cukup mudah menunggu waktu berbuka yang hanya kurang lebih 14 jamsaja setelah imsyak.. selamat berbuka.
Setelah membaca pesan singkat tersebut, aku berasa punya kewajiban untuk membalasnya dengan turut serta larut dalam cerita tersebut, meskipun saking dalamnya setiap kata dalam pesan singkat itu, aku hanya bisa jawab Amieen.... terima kasih kerabatku, sungguh pesan singkat yang kalian kirim tersebut membuatku bergairah menjalankan puasa. Semoga setiap doa yang tersirat dalam pesan singkat itu, dijawab oleh Tuhan. Amien...
Pagi tanpa senyum
Jam digital di layar ponselku menunjukan pukul 05.40, saatnya bangun dan menikmati kembali drama pagi yang menggairahkan. Saatnya keluar dari kamar dan lakukan ritual pagi, semoga saja ada penghuni lain yang sudah bangun, mungkin mereka bisa kuajak jalan kaki ke warung nasi kuning depan komplek. Kenyataan berkata lain, ternyata aku penghuni pertama yang bangun pagi ini, sisanya masih menikmati atmosfir akhir pekan yang diklaim memberikan kebebasan untuk bangun siang, tanpa harus merasa bersalah juga berdosa. Sudahlah kuurungkan saja niatku sarapan nasi kuning, pagi ini cukup kopi hitam yang pekat dan beberapa batang rokok saja.
Secangkir kopi panas terhidang didepanku kini, menemaniku menyaksikan berbagai berita di televisi yang sepertinya masih enggan memberikan kabar baik. Sebatang rokok terselip diantara dua jari tangan kiri sedari tadi belum kusulut, tidak kutemukan satupun korek api di sekitarku. Terpaksa kulangkahkan kaki menuju dapur, bersyukur bila disana ada korek api, kalaupun tidak ada korek api, bisa kuambil api dari kompor. Drama pagi yang menyenangkan begitu cepat meninggalkanku sepertinya, langit dengan mentari yang cerah segera berubah menjadi mendung kelabu, dan aku yakin dari sekian juta penghuni bumi hanya aku yang merasakan hal itu. Aku tidak percaya dengan pemandangan yang kusaksikan kini, aku tidak ingin mengakui jika ini adalah kenyataan. Tepat di pojok dapur, dibawah lemari perabot, didalam aquarium kecil itu, beberapa ikan peliharaanku mati mengambang. Akh... segera kuhampiri, dan kupastikan siapa saja yang akhirnya tewas di aquarium itu. ikan koi kecil berwarna merah yang kuberi nama jukut, ikan patin hitam yang kuberi nama rimba dan ikan yang terakhir... aku tidak tega menyebutkan nama ikan mas merah itu.
Jukut dan rimba baru satu minggu menemani hari-hariku yang selalu panjang, aku tidak begitu sedih juga kehilangan. Mungkin mereka tewas karena tidak terbiasa ada dalam aquarium kecil tak terurus, mungkin mereka juga tidak sanggup mennjadi bagian dari hari-hariku yang statis ini. Tapi ikan mas merah itu, aku terlampau sedih walau untuk menyebutkan namanya. hampir dua tahun dia menemaniku, selalu setia mendengar segala cerita getirku, selalu tabah meski tidak kuberikan penghidupan yang layak. Pertama kali dia masuk dalam kehidupanku, dia mendiami drum besar penampung air hujan, di halaman belakang rumah, berikutnya pernah mendiami gentong bekas penyimpanan beras, dan yang terakhir pernah pula dia meninggali galon air minum selama beberapa bulan. Ikan mas merah itu adalah yang terbaik dan terindah untuku, diantara lebih dari duapuluh ikan yang pernah kumiliki, hanya dia yang bisa bertahan, karena memang hanya kamu yang bisa.
Kini ikan mas merah itu telah pergi, benar benar pergi untuk selamanya. Semoga kau berbahagia disana, semoga pula kau tidak menggugatku atas segala hal yang kulakukan, karena aku yakin kau tahu betul bagaimana aku mencintaimu. Selamat jalan, Sarah.
Secangkir kopi panas terhidang didepanku kini, menemaniku menyaksikan berbagai berita di televisi yang sepertinya masih enggan memberikan kabar baik. Sebatang rokok terselip diantara dua jari tangan kiri sedari tadi belum kusulut, tidak kutemukan satupun korek api di sekitarku. Terpaksa kulangkahkan kaki menuju dapur, bersyukur bila disana ada korek api, kalaupun tidak ada korek api, bisa kuambil api dari kompor. Drama pagi yang menyenangkan begitu cepat meninggalkanku sepertinya, langit dengan mentari yang cerah segera berubah menjadi mendung kelabu, dan aku yakin dari sekian juta penghuni bumi hanya aku yang merasakan hal itu. Aku tidak percaya dengan pemandangan yang kusaksikan kini, aku tidak ingin mengakui jika ini adalah kenyataan. Tepat di pojok dapur, dibawah lemari perabot, didalam aquarium kecil itu, beberapa ikan peliharaanku mati mengambang. Akh... segera kuhampiri, dan kupastikan siapa saja yang akhirnya tewas di aquarium itu. ikan koi kecil berwarna merah yang kuberi nama jukut, ikan patin hitam yang kuberi nama rimba dan ikan yang terakhir... aku tidak tega menyebutkan nama ikan mas merah itu.
Jukut dan rimba baru satu minggu menemani hari-hariku yang selalu panjang, aku tidak begitu sedih juga kehilangan. Mungkin mereka tewas karena tidak terbiasa ada dalam aquarium kecil tak terurus, mungkin mereka juga tidak sanggup mennjadi bagian dari hari-hariku yang statis ini. Tapi ikan mas merah itu, aku terlampau sedih walau untuk menyebutkan namanya. hampir dua tahun dia menemaniku, selalu setia mendengar segala cerita getirku, selalu tabah meski tidak kuberikan penghidupan yang layak. Pertama kali dia masuk dalam kehidupanku, dia mendiami drum besar penampung air hujan, di halaman belakang rumah, berikutnya pernah mendiami gentong bekas penyimpanan beras, dan yang terakhir pernah pula dia meninggali galon air minum selama beberapa bulan. Ikan mas merah itu adalah yang terbaik dan terindah untuku, diantara lebih dari duapuluh ikan yang pernah kumiliki, hanya dia yang bisa bertahan, karena memang hanya kamu yang bisa.
Kini ikan mas merah itu telah pergi, benar benar pergi untuk selamanya. Semoga kau berbahagia disana, semoga pula kau tidak menggugatku atas segala hal yang kulakukan, karena aku yakin kau tahu betul bagaimana aku mencintaimu. Selamat jalan, Sarah.
Saat pagi datang untuk kesekian kalinya
ditemani secangkir kopi panas dan beberapa batang rokok kretek, diantara serakan buku dan dokumen dilantai kamar kontrakan, duduk mencoba menuliskan segala yang sedang kurasakan. Begitulah aku yang sudah beberapa bulan ini hanya bisa menjalani hari, tanpa merasa menikmati hari. Segala yang terjadi dan kulalui seakan hanya drama monoton tanpa alur yang jelas, tanpa skenario memadai yang bisa membuat penonton meninggalkan kursi sebelum pertunjukan tuntas. Semuanya porak poranda, tidak lagi pada tempatnya dan aku cukup kebingungan untuk mengembalikannya pada posisi semula. Inilah duniaku kini, menjalani hari tanpa mencintai pekerjaan, tanpa aktivitas berarti dan tanpa kehangatan yang kuinginkan.
Sengaja kupilih beberapa lagu “perjuangan”, yang biasanya kudengar dan bahkan kunyanyikan saat ikuti demonstrasi dahulu. Aku ingin menikmati suasana pagi ini lebih istimewa dari biasanya, biarkan lirik-lirik lagu yang penuh dengan amarah pada keadaan dan harapan besar pada perubahan bernama revolusi, menerjang gendang telingaku. Inginku tidak hanya mengamini setiap harapan dalam lagu-lagu itu, tapi mengimaninya. Pagi dipenghujung bulan September ini terasa lebih cerah dan hangat, dibanding dengan pagi yang kulalui sebelumnya, mendung dan suram selalu.
Maafku kepada diri sendiri karena selama ini terlampau sering kusakiti. Aku masih percaya Selalu ada harapan akan datang pelangi, setelah hujan turun.
Sengaja kupilih beberapa lagu “perjuangan”, yang biasanya kudengar dan bahkan kunyanyikan saat ikuti demonstrasi dahulu. Aku ingin menikmati suasana pagi ini lebih istimewa dari biasanya, biarkan lirik-lirik lagu yang penuh dengan amarah pada keadaan dan harapan besar pada perubahan bernama revolusi, menerjang gendang telingaku. Inginku tidak hanya mengamini setiap harapan dalam lagu-lagu itu, tapi mengimaninya. Pagi dipenghujung bulan September ini terasa lebih cerah dan hangat, dibanding dengan pagi yang kulalui sebelumnya, mendung dan suram selalu.
Maafku kepada diri sendiri karena selama ini terlampau sering kusakiti. Aku masih percaya Selalu ada harapan akan datang pelangi, setelah hujan turun.
Langganan:
Komentar (Atom)

